Senin, 30 Desember 2013

proposal bab 1 EFEKTIVITAS PBM TERHADAP KEMAMPUAN DALAM MEMECAHKAN MASALAH KUBUS DAN BALOK SISWA KELAS VIII SMPN 7 PALANGKA RAYA



EFEKTIVITAS PBM TERHADAP KEMAMPUAN DALAM MEMECAHKAN MASALAH KUBUS DAN BALOK SISWA KELAS VIII SMPN 7 PALANGKA RAYA



PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Palangka Raya
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan






Oleh :
Khairian Noor
ACA 110 072




UNIVERSITAS PALANGKARAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
          Matematika diajarkan secara bertahap, berurutan disesuaikan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan berkelanjutan berdasarkan pada pengalaman yang telah dimiliki. Siswa tingkat SMP akan mempelajari konsep matematika berdasarkan pemahaman konsep matematika yang diperoleh di bangku SD, begitu pula siswa tingkat SMA akan mempelajari konsep matematika berdasarkan konsep yang diperoleh di SMP.
          Matematika diajarkan di sekolah meliputi aljabar, geometri, trigonometri dan statistika. Tidak sedikit siswa yang kesulitan dalam mempelajarinya.  Kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa berarti  juga kesulitan dalam belajar dari bagian-bagian metematika tersebut. Kesulitan belajar matematika tersebut tidak hanya satu bagian, mungkin juga lebih dari satu bagian.  Ditinjau dari materi yang dipelajari pada matematika, bahwa satu bahasan saling berkaitan dengan satu bahasan yang  lain ataupun lebih, maka dari itu kesulitan pada suatu bahasan berdampak  pada satu atau lebih bahasan yang lain.
          Siswa dalam proses pembelajaran matematika disegala jenjang pendidikan khususnya di SMP tidak hanya diharapkan dapat mengerti dan memahami konsep  yang diberikan, tetapi juga dapat menyelesaikan soal-soal matematika dengan baik, baik itu soal rutin maupu soal tidak rutin (masalah).
          Salah satu tujuan pembelajaran matematika di SMP (BSNP, 2006) adalah memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Sebagaimana tujuan tersebut, menempatkan pemecahan masalah menjadi bagian dari kurikulum matematika yang penting. Dalam proses pemecahan masalah, siswa dapat memecahkan masalah menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki. Pengalaman inilah yang kemudian melatih daya pikir siswa menjadi logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif dalam menghadapi masalah matematika.
          Melalui latihan memecahkan masalah, siswa akan belajar mengorganisasi kemampuannya dalam menyusun strategi  yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Jika seorang siswa telah berlatih memecahkan masalah maka dalam kehidupan nyata siswa tersebut akan mudah dan mampu dalam mengambil keputusan dalam memecahkan masalah, sebab siswa tersebut memiliki keterampilan mengumpulkan informsi yang relevan, dan menyadari betapa perlunya meninjau kembali hasil yang telah diperoleh. Akan tetapi kenyataan dilapangan, menunjukan bahwa siswa kesulitan dalam memecahkan masalah. Hal tersebut, mengakibatkan rendahnya prestasi siswa yang berpengaruh pada keberhasilan siswa bahkan berimplikasi pada sikap tidak suka pada matematika karena dianggap sulit.
          Secara umum pembelajaran matematika selama ini lebih mengutamakan hasil dari pada proses pembelajaran. Nilai KKM yang awalnya berkisar mulai dari 65 sampai 68 dinaikkan menjadi 75, hal ini dilakukan agar minimal nilai matematika siswa di dalam rapot 75 sehingga dapat membantu siwa mudah lulus UN. Padahal dengan KKM 65 pun masih banyak siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM apalagi bila KKM dinaikan menjadi 75.
          Berdasarkan wawancara tidak terstruktur dengan salah satu guru matematika SMPN 7 Palangka Raya pada tanggal 29 Oktober 2013, hasil pelajaran matematika siswa kelas VIII masih kurang memuaskan. Berdasarkan hasil ulangan harian matematika, persentase siswa kelas VIII-1 yang tuntas matematika dengan KKM 65 sebesar 53%. Ini berarti siswa yang tuntas hanya separuhnya saja, sedangkan yang lain mendapatkan nilai dibawah KKM yang ditentukan.
          Adapun gambaran secara umum pembelajaran matematika disekolah tersebut adalah guru ketika memulai pembelajaran dengan mengingatkan materi sebelumnya, dilanjutkan dengan guru menjelaskan materi pelajaran yang diajarkan berupa rumus-rumus yang dapat digunakan dalam memecahkan suatu masalah beserta contohnya dan penggunaan rumus yang diberikan, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Jika ada siswa yang bertanya, guru menjelaskan secara singkat. Namun jika tidak ada yang bertanya, guru langsung memberikan soal-soal latihan dan meminta siswanya menyelesaikan. Setelah siswa selesai mengerjakan soal latihan guru meminta siswa mengumpulkan jawabannya, dilanjutkan guru dengan membahas soal latihan yang telah diselasaikan siswa. Pembelajaran yang dilakukan pada sekolah tersebut lebih didominasi oleh guru atau dengan kata lain siswa menjadi pasif. Hanya terdapat beberapa siswa yang aktif dalam pembelajaran tersebut yang memiliki kemampuan yang mumpuni pada matematika.
          Selanjutnya, berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika di sekolah tersebut memaparkan bahwa siswa kesulitan dalam memecahkan masalah matematika, sehingga soal dalam bentuk permasalahan jarang sekali diberikan kepada siswa. Hal ini menunjukan bahwa salah satu tujuan pembelajaran matematika yang telah disebutkan di atas masih mengalami kendala dalam pencapaian tujuan di sekolah tersebut.
          Salah satu kesulitan siswa dalam memecahkan masalah matematika menurut guru di sekolah tersebut adalah pada materi kubus dan balok. Kesulitan yang dialami oleh siswa diantaranya adalah kesulitan dalam memahami masalah, kesulitan dalam memodelkan permasalahan kedalam bentuk matematis serta kekeliruan siswa dalam menarik kesimpulan.
          Kubus dan balok merupakan sebuah meteri dari beberapa materi yang terdapat pada geometri. Sehingga jika siswa kesulitan dalam memecahkan masalah pada materi kubus dan balok maka dimungkinkan siswa akan kesulitan dalam memecahkan masalah pada materi geometri yang lainnya, karena pada dasarnya materi matematika itu saling berkaitan satu sama lain. Menurut  Trianto (2009) sebagian besar siswa hanya menghapal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemukan masalah dalam kehidupan nyata yang berkaitan dengan konsep matematika yang dimiliki. Hal inilah dimungkinkan menjadi salah satu penyebab siswa kesulitan dalam memecahkan masalah matematika.
          Pentingnya pemahaman konsep dalam proses belajar mengajar sangat mempengaruhi sikap, keputusan dan cara-cara dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu pendidik perlu mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, karena belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari bukan sekedar mengetahuinya.
          Keberhasilan proses belajar mengajar disekolah sangat ditentukan oleh ketepatan pendidik dalam memilih model pembelajaran. Melihat permasalahan di atas diperlukan sebuah model pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah matematika. Dalam hal ini, pendidik dapat menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah (PBM). Model PBM merupakan sebuah model pembelajaran yang didasarkan pada banyak permasalahan yang membutuhkan pemecahan dari permasalahan nyata. Model pembelajaran ini dapat membantu siswa dalam memproses informasi yang telah dimiliki untuk menyusun kemampuan mereka tentang pemecahan matematika di lingkungan. Tujuan dari model PBM membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah serta menjadi pembelajar yang mandiri. Dengan demikian dapat disimpulkan model PBM dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan, menerapkan pengetahuan, melatih keterampilan dan memproses sendiri dalam memecahkan masalah matematika (Trianto, 2009).
          Untuk itu, pendidik dapat melaksanakan pembelajaran dengan PBM dalam memecahkan masalah matematika. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua soal matematika termasuk masalah matematika, karena masalah matematika itu sendiri merupakan suatu situasi yang membutuhkan penyelesaian dimana cara penyelesaian tidak dapat dilihat secara langsung. Jadi, kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kemampuan memproses dan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi yang baru yang belum dikenal.
          Menurut pendapat beberapa para ahli salah satunya menurut Polya (1973), dalam memecahkan masalah ada empat langkah yaitu: (1) Memahami masalah; (2) Membuat rencana pemecahan (3) Melaksanakan rencana pemecahan; (4) Memeriksa kembali. Berdasarkan pendapat tersebut, penulis menyimpulkan kemampuan pemecahan masalah matematika dapat diukur dari hasil pemecahan masalah matematika, dengan empat indikator penilaian yaitu: (1) Kemampuan memahami masalah; (2) Kemampuan merencanakan pemecahan masalah (3) Kemampuan melaksanakan rencana pemecahan masalah; (4) Kemampuan menafsirkan solusi yang diperoleh.
          Melihat permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk mencoba melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas PBM Terhadap Kemampuan dalam Memecahkan Masalah Kubus dan Balok Siswa kelas VIII SMPN 7 Palangka Raya”.
1.2         Identifikasi Masalah
          Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah berikut:
1.      Pembelajaran matematika saat ini lebih dimotivasikan agar siswa lulus dalam ujian nasional atau UN tanpa memperhatikan pemahaman siswa pada matematika itu sendiri.
2.      Siswa kesulitan dalam memecahkan masalah matematika yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa serta berimplikasi pada tidak sukanya siswa pada matematika.
3.      Siwa kesulitan dalam memecahkan masalah matematika pada materi kubus dan balok.
4.      Sebagian besar siswa kurang mampu menggunakan konsep yang dimiliki untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.
1.3         Pembatasan Masalah
Dari masalah-masalah yang telah diidentifikasi, maka penulis memberikan batasan-batasan pada penelitian ini yaitu:
1.      Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berdasarkan masalah (PBM).
2.      Materi yang diajarkan adalah kubus dan balok, meliputi:
a.       Luas permukaan kubus dan balok.
b.      Volume kubus dan balok.
3.      Penelitian hanya dilakukan pada siswa kelas VIII SMPN 7 Palangka Raya
4.      Hasil belajar yang diukur hanya pada ranah kognitif yaitu pada kemampuan memecahkan masalah kubus dan balok.
1.4         Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang di atas, dirumuskan masalah sebagai berikut: Apakah terdapat efektivitas PBM terhadap kemampuan dalam memecahkan masalah kubus dan balok siswa kelas VIII SMPN 7 Palangka Raya?
          Adapun efektivitas dapat dilihat dari rata-rata selisih antara posttest dan pretest ( ). Dalam hal ini penulis memberikan patokan pembelajaran PBM memberikan efektivitas terhadap kemampuan memecahkan masalah jika  > 15. Hal ini dilakukan dikarenakan jika hasil dari penelitian menunjukan PBM memberi efektivitas terhadap kemampuan memecahkan masalah kubus dan balok bukan karena materi tersebut baru selesai diajarkan sehingga memberikan efektivitas yang signifikan.
1.5         Tujuan Penelitian
          Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas PBM terhadap kemampuan dalam memecahkan masalah kubus dan balok siswa kelas VIII SMPN 7 Palangka Raya.
1.6         Manfaat Penelitian
Adapun yang akan menjadi manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi sekolah tempat penelitian, dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk pengembangan program pengajaran matematika di sekolah.
2.      Bagi guru matematika, dapat digunakan sebagai informasi untuk bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran matematika untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.
3.      Bagi peneliti, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pendidikan khususnya matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar