EFEKTIVITAS
PBM TERHADAP KEMAMPUAN DALAM MEMECAHKAN MASALAH KUBUS DAN BALOK SISWA KELAS
VIII SMPN 7 PALANGKA RAYA
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Palangka Raya
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh :
Khairian Noor
ACA 110 072
UNIVERSITAS
PALANGKARAYA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN
PENDIDIKAN MIPA
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2013
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Matematika diajarkan secara bertahap, berurutan
disesuaikan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan berkelanjutan berdasarkan
pada pengalaman yang telah dimiliki. Siswa tingkat SMP akan mempelajari konsep
matematika berdasarkan pemahaman konsep matematika yang diperoleh di bangku SD,
begitu pula siswa tingkat SMA akan mempelajari konsep matematika berdasarkan
konsep yang diperoleh di SMP.
Matematika diajarkan di sekolah
meliputi aljabar, geometri, trigonometri dan statistika. Tidak sedikit siswa
yang kesulitan dalam mempelajarinya.
Kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa berarti juga kesulitan dalam belajar dari
bagian-bagian metematika tersebut. Kesulitan belajar matematika tersebut tidak
hanya satu bagian, mungkin juga lebih dari satu bagian. Ditinjau dari materi yang dipelajari pada
matematika, bahwa satu bahasan saling berkaitan dengan satu bahasan yang lain ataupun lebih, maka dari itu kesulitan
pada suatu bahasan berdampak pada satu
atau lebih bahasan yang lain.
Siswa dalam proses pembelajaran matematika
disegala jenjang pendidikan khususnya di SMP tidak hanya diharapkan dapat
mengerti dan memahami konsep yang
diberikan, tetapi juga dapat menyelesaikan soal-soal matematika dengan baik,
baik itu soal rutin maupu soal tidak rutin (masalah).
Salah satu tujuan pembelajaran
matematika di SMP (BSNP, 2006) adalah memecahkan masalah yang meliputi
kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang diperoleh. Sebagaimana tujuan tersebut, menempatkan
pemecahan masalah menjadi bagian dari kurikulum matematika yang penting. Dalam proses
pemecahan masalah, siswa dapat memecahkan masalah menggunakan pengetahuan serta
keterampilan yang sudah dimiliki. Pengalaman inilah yang kemudian melatih daya
pikir siswa menjadi logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif dalam
menghadapi masalah matematika.
Melalui latihan memecahkan masalah,
siswa akan belajar mengorganisasi kemampuannya dalam menyusun strategi yang sesuai untuk memecahkan masalah yang
dihadapi. Jika seorang siswa telah berlatih memecahkan masalah maka dalam
kehidupan nyata siswa tersebut akan mudah dan mampu dalam mengambil keputusan
dalam memecahkan masalah, sebab siswa tersebut memiliki keterampilan
mengumpulkan informsi yang relevan, dan menyadari betapa perlunya meninjau
kembali hasil yang telah diperoleh. Akan tetapi kenyataan dilapangan,
menunjukan bahwa siswa kesulitan dalam memecahkan masalah. Hal tersebut,
mengakibatkan rendahnya prestasi siswa yang berpengaruh pada keberhasilan siswa
bahkan berimplikasi pada sikap tidak suka pada matematika karena dianggap
sulit.
Secara umum pembelajaran matematika
selama ini lebih mengutamakan hasil dari pada proses pembelajaran. Nilai KKM
yang awalnya berkisar mulai dari 65 sampai 68 dinaikkan menjadi 75, hal ini
dilakukan agar minimal nilai matematika siswa di dalam rapot 75 sehingga dapat
membantu siwa mudah lulus UN. Padahal dengan KKM 65 pun masih banyak siswa yang
mendapatkan nilai dibawah KKM apalagi bila KKM dinaikan menjadi 75.
Berdasarkan wawancara tidak
terstruktur dengan salah satu guru matematika SMPN 7 Palangka Raya pada tanggal
29 Oktober 2013, hasil pelajaran matematika siswa kelas VIII masih kurang
memuaskan. Berdasarkan hasil ulangan harian matematika, persentase siswa kelas
VIII-1 yang tuntas matematika dengan KKM 65 sebesar 53%. Ini berarti siswa yang
tuntas hanya separuhnya saja, sedangkan yang lain mendapatkan nilai dibawah KKM
yang ditentukan.
Adapun gambaran secara umum pembelajaran
matematika disekolah tersebut adalah guru ketika memulai pembelajaran dengan
mengingatkan materi sebelumnya, dilanjutkan dengan guru menjelaskan materi
pelajaran yang diajarkan berupa rumus-rumus yang dapat digunakan dalam
memecahkan suatu masalah beserta contohnya dan penggunaan rumus yang diberikan,
kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Jika ada siswa yang
bertanya, guru menjelaskan secara singkat. Namun jika tidak ada yang bertanya,
guru langsung memberikan soal-soal latihan dan meminta siswanya menyelesaikan. Setelah
siswa selesai mengerjakan soal latihan guru meminta siswa mengumpulkan
jawabannya, dilanjutkan guru dengan membahas soal latihan yang telah
diselasaikan siswa. Pembelajaran yang dilakukan pada sekolah tersebut lebih didominasi
oleh guru atau dengan kata lain siswa menjadi pasif. Hanya terdapat beberapa
siswa yang aktif dalam pembelajaran tersebut yang memiliki kemampuan yang
mumpuni pada matematika.
Selanjutnya, berdasarkan hasil wawancara dengan guru
matematika di sekolah tersebut memaparkan bahwa siswa kesulitan dalam
memecahkan masalah matematika, sehingga soal dalam bentuk permasalahan jarang
sekali diberikan kepada siswa. Hal ini menunjukan bahwa salah satu tujuan
pembelajaran matematika yang telah disebutkan di atas masih mengalami kendala
dalam pencapaian tujuan di sekolah tersebut.
Salah satu kesulitan siswa dalam memecahkan masalah
matematika menurut guru di sekolah tersebut adalah pada materi kubus dan balok.
Kesulitan yang dialami oleh siswa diantaranya adalah kesulitan dalam memahami
masalah, kesulitan dalam memodelkan permasalahan kedalam bentuk matematis serta
kekeliruan siswa dalam menarik kesimpulan.
Kubus dan balok merupakan sebuah meteri dari beberapa
materi yang terdapat pada geometri. Sehingga jika siswa kesulitan dalam
memecahkan masalah pada materi kubus dan balok maka dimungkinkan siswa akan
kesulitan dalam memecahkan masalah pada materi geometri yang lainnya, karena
pada dasarnya materi matematika itu saling berkaitan satu sama lain. Menurut Trianto (2009) sebagian besar siswa hanya
menghapal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemukan
masalah dalam kehidupan nyata yang berkaitan dengan konsep matematika yang
dimiliki. Hal inilah dimungkinkan menjadi salah satu penyebab siswa kesulitan
dalam memecahkan masalah matematika.
Pentingnya pemahaman konsep dalam proses belajar mengajar
sangat mempengaruhi sikap, keputusan dan cara-cara dalam memecahkan masalah.
Oleh karena itu pendidik perlu mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata siswa, karena belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri
apa yang dipelajari bukan sekedar mengetahuinya.
Keberhasilan proses belajar mengajar disekolah sangat
ditentukan oleh ketepatan pendidik dalam memilih model pembelajaran. Melihat
permasalahan di atas diperlukan sebuah model pembelajaran yang dapat membantu
siswa dalam memecahkan masalah matematika. Dalam hal ini, pendidik dapat
menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah (PBM). Model PBM merupakan
sebuah model pembelajaran yang didasarkan pada banyak permasalahan yang
membutuhkan pemecahan dari permasalahan nyata. Model pembelajaran ini dapat
membantu siswa dalam memproses informasi yang telah dimiliki untuk menyusun
kemampuan mereka tentang pemecahan matematika di lingkungan. Tujuan dari model
PBM membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah serta
menjadi pembelajar yang mandiri. Dengan demikian dapat disimpulkan model PBM
dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan, menerapkan pengetahuan,
melatih keterampilan dan memproses sendiri dalam memecahkan masalah matematika
(Trianto, 2009).
Untuk itu, pendidik dapat melaksanakan pembelajaran dengan
PBM dalam memecahkan masalah matematika. Namun, perlu diketahui bahwa tidak
semua soal matematika termasuk masalah matematika, karena masalah matematika
itu sendiri merupakan suatu situasi yang membutuhkan penyelesaian dimana cara
penyelesaian tidak dapat dilihat secara langsung. Jadi, kemampuan pemecahan masalah
matematika merupakan kemampuan memproses dan menerapkan pengetahuan yang telah
diperoleh sebelumnya kedalam situasi yang baru yang belum dikenal.
Menurut pendapat beberapa para ahli salah satunya menurut
Polya (1973), dalam memecahkan masalah ada empat langkah yaitu: (1) Memahami
masalah; (2) Membuat rencana pemecahan (3) Melaksanakan rencana pemecahan; (4)
Memeriksa kembali. Berdasarkan pendapat tersebut, penulis menyimpulkan kemampuan
pemecahan masalah matematika dapat diukur dari hasil pemecahan masalah
matematika, dengan empat indikator penilaian yaitu: (1) Kemampuan memahami masalah;
(2) Kemampuan merencanakan pemecahan masalah (3) Kemampuan melaksanakan rencana
pemecahan masalah; (4) Kemampuan menafsirkan solusi yang diperoleh.
Melihat permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk
mencoba melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas PBM Terhadap Kemampuan dalam
Memecahkan Masalah Kubus dan Balok Siswa kelas VIII SMPN 7 Palangka Raya”.
1.2
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
dikemukakan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah berikut:
1. Pembelajaran
matematika saat ini lebih dimotivasikan agar siswa lulus dalam ujian nasional atau
UN tanpa memperhatikan pemahaman siswa pada matematika itu sendiri.
2. Siswa
kesulitan dalam memecahkan masalah matematika yang berdampak pada rendahnya
hasil belajar siswa serta berimplikasi pada tidak sukanya siswa pada
matematika.
3. Siwa
kesulitan dalam memecahkan masalah matematika pada materi kubus dan balok.
4. Sebagian
besar siswa kurang mampu menggunakan konsep yang dimiliki untuk memecahkan
masalah dalam kehidupan nyata.
1.3
Pembatasan
Masalah
Dari masalah-masalah
yang telah diidentifikasi, maka penulis memberikan batasan-batasan pada
penelitian ini yaitu:
1.
Model pembelajaran yang digunakan dalam
penelitian ini adalah model pembelajaran berdasarkan masalah (PBM).
2.
Materi yang diajarkan adalah kubus dan
balok, meliputi:
a. Luas
permukaan kubus dan balok.
b. Volume
kubus dan balok.
3.
Penelitian hanya dilakukan pada siswa kelas
VIII SMPN 7 Palangka Raya
4.
Hasil belajar yang diukur hanya pada
ranah kognitif yaitu pada kemampuan memecahkan masalah kubus dan balok.
1.4
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, dirumuskan masalah sebagai berikut: Apakah terdapat efektivitas
PBM terhadap kemampuan dalam memecahkan masalah kubus dan balok siswa kelas
VIII SMPN 7 Palangka Raya?
Adapun efektivitas dapat dilihat dari
rata-rata selisih antara posttest dan
pretest (
). Dalam hal ini penulis
memberikan patokan pembelajaran PBM memberikan efektivitas terhadap kemampuan
memecahkan masalah jika
> 15. Hal ini dilakukan dikarenakan jika
hasil dari penelitian menunjukan PBM memberi efektivitas terhadap kemampuan
memecahkan masalah kubus dan balok bukan karena materi tersebut baru selesai
diajarkan sehingga memberikan efektivitas yang signifikan.
1.5
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah
dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas PBM terhadap
kemampuan dalam memecahkan masalah kubus dan balok siswa kelas VIII SMPN 7
Palangka Raya.
1.6
Manfaat
Penelitian
Adapun
yang akan menjadi manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagi sekolah tempat penelitian, dapat
digunakan sebagai bahan masukan untuk pengembangan program pengajaran
matematika di sekolah.
2.
Bagi guru matematika, dapat digunakan
sebagai informasi untuk bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran
matematika untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.
3.
Bagi peneliti, sebagai bahan masukan
untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pendidikan khususnya
matematika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar